Postingan

Matahari dan Bulan dalam Filosofi

Gambar
(Tulisan ini diposting atas permintaan Resa Husnul dari UNJ dengan mengaitkan gambar) Malam semakin menunjukkan sisi romantisnya dengan posisi bulan yang tepat menancap di tengah langit. Eh tunggu, mengapa malam selalu menakjubkan? Padahal siang telah sempurna menemani sepanjang hari? Kamu mencintai malam yang (sebenarnya) gelap dan seram karena bulan yang membuatnya indah? Tahukah kamu bahwa bulan tidak pernah pernah benar-benar bercahaya? Ia hanya sekedar memantulkan cahaya dari matahari untuk kemudian dinikmati manusia permukaan bumi. Bercerita soal gambar, menarik ketika mengkaitkannya dengan cahaya bulan dan matahari. Pada gambar terdapat 2 orang laki-laki yang berusaha menuju ke bagian atas dengan berbeda cara. Laki-laki yang satu (sebut saja si A), ia terlihat sedang menaiki anak tangga dengan tumpukan kayu dipunggungnya. Laki-laki lainnya (sebut saja si B) terlihat sedang menaiki lift dengan dikelilingi wanita cantik. Tujuan keduanya sama, mengarah ke permuka...

Tuhan Tak Pernah "Menyuruh" Pergi

Gambar
Ketika diminta untuk pergi oleh orang lain dan kamu tetap bersikukuh terdiam, Karena jaraknya sudah terbiasa hanya sejengkal dari ingatanmu, Mengapa tak kau lakukan itu terhadap Tuhan mu, Bahkan Tuhan tak pernah menyuruhmu untuk pergi, Mengapa bisa kau begitu mengingat manusia yang tak menginginkanmu? Sedangkan Tuhan selalu menginginkanmu dekat dengan-Nya.

Tentang Mengandalkan

Gambar
Malam kian membuncah, Laksana meteor menembus dinding atmosfer terdalam, Memantulkan pancaran sinar yang tersusun rapih.Di balik awan, bulan bersembunyi, Mungkin ia malu selalu bergantung pada sinar rasi bintang yang begitu tertata, Ketika bintang terhalang awan, gelap sudah aura Sang Bulan. Mungkin itu juga yang akan terjadi pada manusia yang terus bergantung pada orang lain. Ketika yang biasa diandalkannya pergi, maka rapuh sudah.

Aku Belajar pada Mawar (by : Anindita Kasyafi)

Aku Belajar Pada Mawar --------------------------------------- saat sang mawar mengakar aku belajar, bahwa laku itu harus berdasar saat sang mawar berkuncup aku belajar, berkembang itu ialah inti hidup saat sang mawar tumbuh duri aku belajar, kekuatan itu sejatinya seni saat sang mawar bermekaran aku belajar, cita dan asa tak punya batasan bahkan jika kelak sang mawar dipetik aku akan belajar, manfaat yg buatmu cantik jika kelak sang mawar layu aku kan tetap belajar darinya, seumur hidupku dan, jika kau tanya siapa mawar kukatakan padamu, dia si mata sayu, "jari tanganku tlah tumpul setumpul saraf pusatku tak segera menyeru kumpul pada kata yang hendak kuceritakan padamu" ----- 25 Juli 2017, "Tumpul" (Kasyafi, 2016) dalam "Aku Belajar Pada Mawar" (Kasyafi, 2017) (Thank's to Anindita Kasyafi atas tulisan indahnya)

Sepi dan Kesepian

Sepi itu kondisi, Kesepian itu rasa, Sepi itu adalah kondisi dimana hanya ada hening,  hampa. Tidak melulu menggambarkan kesendirian. Tapi cukup mewakilkan betapa hampanya sebuah keadaan. Kesepian itu adalah rasa dimana ada satu ruang kosong dihatimu yang menggambarkan kesendirian. Kalau sepi itu tidak melulu soal sendiri, maka lain halnya dengan kesepian. Kesepian itu menggambarkan kesendirian bahkan pada kondisi yang tidak sendiri. Kata dasar yang sama, tapi beda makna.

Sepasang Bola Mata (Aku Rindu, Aku Malu)

Gambar
Tidak pernah hilang dalam pandangan, Sepasang bola mata dengan sorotnya yang tajam jatuh tepat dipelupuk mataku. Kala itu, aku berdiri dihadapannya. Sedang ia, duduk tegap tepat dihadapanku. Kini, sepotong senja kembali mengingatkan ku dengan tatapan tajam itu. Lewat biasnya yang dengan tega berbisik tentang kerinduan. Apa kabarmu? Mungkinkah kita berada pada rindu dan domain waktu yang sama? Dan tentang tatapmu itu... Kalau kamu mengagumi caraku berpuisi, Maka, aku mengagumi caramu menatapku, ketika berpuisi. Indah dan sederhana bukan? Aku rindu, aku malu. -Della Syariyana-

Terdalam dan Dingin

Gambar
Dan sekarang, gadis kecil itu hanya berpangku pada melodi yang diutarakan rintik hujan dan bias senja. Sedang yang lain bertanya tentang keadaan sebenarnya. Hujan hanya sekedar berbisik, biar jarak dan waktu yang menggoreskan batas antara tirakat dan kebahagiaan. Mengenyampingkan keinginan untuk sekedar bertemu. Gadis itu terdiam. Tanpa sadar, hujan dan senja telah menenggelamkannya ke bagian terdalam dan dingin, dari sebuah "kerinduan".