Postingan

Kalau Kamu (Tentang Tilawah)

Oleh : Ust Cahyadi Takariawan Kalau kamu lelah, cobalah tilawah. Kalau kamu resah, segeralah tilawah. Kalau kamu gelisah, hilangkan dengan tilawah. Kalau kamu susah, mulailah tilawah. Kalau kamu gundah, jangan lupa tilawah. Kalau badanmu lemah, kuatkan dengan tilawah. Kalau imanmu tergugah, lakukan tilawah. Kalau jiwamu gerah, perbanyak tilawah. Kalau matamu basah, segera tilawah. Kalau pikiranmu cerah, cepatlah tilawah. Kalau hatimu patah, teruslah tilawah. Kalau kamu marah, redakan dengan tilawah. Kalau kamu merasa gagal, jangan lupakan tilawah. Kalau kamu kalah, harus banyak tilawah. Kalau kamu tidak mau kalah, harus makin banyak tilawah. Kalau kamu tabah, seringlah tilawah. Kalau tanganmu tengadah, mulailah tilawah. Kalau kakimu melangkah, lantunkan tilawah. Kalau hatimu berseri bak bunga merekah, seringlah tilawah. Kalau perasaanmu begitu indah, segeralah tilawah. Kalau ingin keluarga sakinah, ajak mereka tilawah. Kalau ingin anak-anak salih dan salihah, ajari tila...

Perkenalan

Terkadang kita hanya melihat seseorang dari satu perspektif. Sehingga yang terjadi adalah kesalahpahaman. Tapi, itu manusiawi bukan? Sebagai suatu proses pengenalan diri.

Tentu, Kau Boleh Saja Masuk

Tentu kau boleh saja masuk, Mengalir di sela butir darahku, Keluar masuk dinding jantungku, Menyapa setiap sel tubuhku. -Sapardi Djoko Damono-

Hidup, Soal Bekerja Keras

Kalau bicara tentang kehidupan keluargaku, yang tergambar dari kami adalah bagaimana kami hidup bekerja keras. Ayahku bukan pekerja kantoran yang tiap hari naik turun motor apalagi mobil. Ayahku seorang karyawan pabrik. Setiap hari, ayah harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk sampai ke tempat kerjanya dengan mengayuh sepeda. Hal ini sudah dilakukan ayah sejak aku masih kecil. Jadi bayangkan saja, umurku saat ini sudah menginjak 20 tahun. Berarti sudah sekitar 20 tahun ayah mengayuh sepeda bolak balik rumah-pabrik. Dan yang membuat aku salut dengan ayah, beberapa tahun belakangan ini, sepulang kerja terkadang ayah berjualan di tempat yang berlawanan dengan arah rumah kami. Berarti, ayah mengayuh sepeda lebih jauh lagi dari biasanya. Tak pernah ada keluhan yang terucap dari ayah, padahal aku tahu betul bahwa ayah sangat merasa lelah. Bukan tak ingin membeli sebuah motor, tapi ayah lebih memilih menabung uangnya demi sekolah malaikat-malaikat kecilnya. Sudah beberapa tahun mama...

Ilmu

“Ilmu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, dia akan sombong. Jika dia memasuki tahapan kedua, dia akan tawadhu. Dan jika memasuki tahapan ketiga, dia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya.” –Umar bin Khattab-

Tentang Kalian (Grup S BPJS-TK Camp)

Tentang kalian, aku tidak tau kata apa lagi yang hendak kulukiskan. Sebenarnya aku tak ingin membahas bagaimana awal aku bertemu atau bagaimana aku berjuang bersama kalian. Karena itu semua akan menguras habis air mataku. Tapi terlalu sayang jika tidak menulis sesuatu tentang kalian (ibarat makanan, mubadzir kalau dibuang hehehe..). Kalian sudah mengisi memori hati ini. Tentang kalian, aku ingin bercerita bagaimana rindu ini kian menyesakkan. Ini bukan soal lebay atau tidak. Ini soal rasa yang Tuhan titipkan kepadaku, yang ditunjukkan kepada kalian. Ini tentang rasa yang setiap hari hadir di sujud sepertiga malamku. Malam masih menawarkan kesunyian yang sama. Dengan rintik hujan yang entah mengapa mengingatkanku kembali tentang sosok-sosok hebat yang mengajarkanku banyak hal. Tentang kebersamaan, tentang canda tawa, tentang impian-impian kecil yang coba kita wujudkan bersama dalam waktu yang singkat. Kalian bukan hanya teman, partner, atau sahabat. Kalian lebih dari itu. Orang...

#Jawaban

Mengenai postingan yang sebelumnya, tentang “Cinta dalam Diam”, ternyata ada komentar menarik dari beberapa teman yang tidak setuju. Oke, akan saya bahas di postingan ini yaa.. “Cinta dalam Diam” yang dimaksud pada postingan sebelumnya, itu saya tunjukkan untuk diri saya sebenarnya. Saya pernah membaca sebuah pepatah yang mengatakan bahwa : “ Jika kamu tak seberani Khadijah yang lebih dahulu megungkapkan rasa kepada Rasulullah karena menyukai akhlaknya, jadilah seperti Fatimah yang menanti Ali datang melamar.” Nah, dalam hal ini saya berada pada posisi seperti Fatimah yang hanya bisa mengagumi sosok Ali. Saya tidak bisa menjadi seperti Khadijah yang langsung mengungkapkan rasa kagumnya kepada Rasulullah. “Berarti rasa itu akan terus membekas sampai kamu punya suami Del? Egois ga?” Waduh, dalam banget pertanyaannya ya.. yuhuuu Coba deh dibaca lagi kalimat-kalimat akhir di potingan saya yang kemarin. “ Jika memang dia bukan milikmu, waktu akan menghapus ‘...